Minggu, 10 Februari 2013

PENJARA SUCI Q

Pesantren pertama :
Pondok Pesantren IBNUL AMIN PAMANGKIH PUTRI, Barabai. 
Pendiri : K.H. Mahfuz Amin.
Ini adalah pesantren pertamaku setelah lulus dari MTsN Babirik, di kampungku. Awalnya ragu untuk memasuki penjara suci ini tapi karena ini merupakan perintah dari ayah, apa boleh buat ??? aku harus menuruti apa yang ia mau, dulunya tak tau maksud ayah mengirimku ke pesantren ini yang aku tahu dengan mendengar desas-desus mengenai pesantren, aku akan menghapal arab sepapan tulis penuh setiap harinya & banyak yang gila karena terlalu memikirkannya. What ??? mendengar itu aku langsung terkaget-kaget, bagaimana bisa aku menghapal semua itu, apa ayah percaya aku bisa melakukan semua itu...???
Pandangan pertama, ku injakkan kaki di pesantren ini, dengan memandang sekeliling, ternyata pesantren putri ini luas sekali, yang katanya sekitar 4 hektar luasnya sedangkan yang di putra sekitar 7 hektar. Banyak bangunan yang membuatku bingung dari kamar-kamar yang serupa, dapur yang panjaaaaang tak terkira dengan meja-meja dan kompor-kompor di atasnya yang tersusun rapi. Dengan banyak kolam-kolam, ada beberapa kolam yang khusus untuk mandi, ada yang khusus untuk berwudhu, dan ada yang khusus untuk cuci-cuci peralatan dapur.
Yaa . . . aku enjoy dengan semuanya, lingkungan yang sejuk dan orang-orang didalamnya yang ramah-tamah dan juga karena aku mengikuti sepupuku disini, dia sudah setahun lebih dahulu di pesantren ini.
Rencana awal aku masuk pesantren ini cuma satu tahun, karena ayah ingin menyekolahkanku lagi kesekolah yang ada ijazahnya, maklum dipesantren ini tidak diberikan ijazah karena merupakan tempat khusus untuk menuntut ilmu agamadan juga karena kedua orangtuaku adalah guru di sekolah negri. Tapi karena aku sudah cinta dengan pesantren ini, cinta dengan pengajarku K’Hamdah, cinta dengan kitab-kitabku dan juga sayang dengan teman-temanku, aku meminta pertambahan waktu kepada ayah selama satu tahun lagi untuk menuntut ilmu di pesantren ini, dan akhirnya ayahpun setuju.
Kembali tersenyum mendapati diriku masih di pesantren ini, senang luar biasa aku masih bisa berkumpul dengan kalian teman-teman selokalku, sekamarku dan sepesantren ini J.
Di pesantren ini aku juga menikmati berbagai persaingan, seperti duluan datang kelokal, menyapu dan menghapus papan tulis supaya K’Hamdah tidak repot-repot lagi, duluan menyediakan bantal untuk dijadikan meja K’Hamdah kalau kami belajar di kamar beliau, pokonya kami bersaing lebih dahulu dalam mengerjakan semua yang membuat K’Hamdah susah, karena kami ingin mendapat berkah dari apa yang telah kami pelajari dari k’hamdah, karena apabila k’Hamdah sebagai guru kami ridha kepada kami, Allah juga akan ridha kepada kami dan dengan itu berharap untuk keberkahan ilmu kami untuk masa depan kelak.
Persainganpun bukan hanya dari segi itu, dari segi prestasipun kami juga bersaing, yaaa..... AlhamduliLLaah aku selalu mendapatkan peringkat yang cukup memuaskan orangtuaku dan khususnya diriku sendiri, aku senang memuthala’ahi kitab-kitab yang telah ku pelajari, aku begitu bersemangat dalam menuntut ilmu agama, itu semua karena dorongan dari orangtuaku, aku sangat menyayangi mereka. Pernah ketika lulus dari kitab “Syarah sittin” dengan peringkat yang memuaskan, aku meminta ayah untuk membelikanku kitab “Bajury atau Fathul Qorib” beirut sebagai hadiah dari prestasiku, yang saat itu tergolong mahal dan jarang teman-teman membelinya, aku bahagia sekali dibelikan kitab itu sehingga kebahagiaan itu tak bisa untuk dilukiskan ataupun dituliskan, aku semakin rajin mempelajarinya dan selalu tersenyum apabila kulihat kitab itu, kitab yang kuperoleh dengan belajar giat sebagai hadiah orangtuaku hasil dari prestasiku. ^_^
Dan ketika waktu setahun berakhir, beraaaaaaattt sekali menerima telpon dari ayah karena ia akan menjemputku beberapa hari lagi untuk pindah, dan ini tidak bisa ditawar lagi, aku sedih luar biasa tanpa menceritakan kepada siapapun, dan akhirnya ayahkupun datang untuk menjemputku ibarat malaikat maut yang ingin mengakhiri kehidupanku, aku pasrah dengan air mata yang selalu jatuh ibarat hujan yang turun dengan lebatnya, hari ini aku akan pergi meninggalkan kalian. Kan kujadikan menjadi kenangan terindah yang ada dihidupku, kata terakhir yang ingin ku ucapkan :
“sungguh aku terlalu menyayangi apa-apa yang berhubungan dengan pesantren ini !_!” “IBNUL AMIN PAMANGKIH PUTRI.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar