Pesantren pertama :
Pendiri
: K.H. Mahfuz Amin.
Ini
adalah pesantren pertamaku setelah lulus dari MTsN Babirik, di kampungku.
Awalnya ragu untuk memasuki penjara suci ini tapi karena ini merupakan perintah
dari ayah, apa boleh buat ??? aku harus menuruti apa yang ia mau, dulunya tak
tau maksud ayah mengirimku ke pesantren ini yang aku tahu dengan mendengar
desas-desus mengenai pesantren, aku akan menghapal arab sepapan tulis penuh
setiap harinya & banyak yang gila karena terlalu memikirkannya. What ???
mendengar itu aku langsung terkaget-kaget, bagaimana bisa aku menghapal semua
itu, apa ayah percaya aku bisa melakukan semua itu...???
Pandangan
pertama, ku injakkan kaki di pesantren ini, dengan memandang sekeliling,
ternyata pesantren putri ini luas sekali, yang katanya sekitar 4 hektar luasnya
sedangkan yang di putra sekitar 7 hektar. Banyak bangunan yang membuatku
bingung dari kamar-kamar yang serupa, dapur yang panjaaaaang tak terkira dengan
meja-meja dan kompor-kompor di atasnya yang tersusun rapi. Dengan banyak
kolam-kolam, ada beberapa kolam yang khusus untuk mandi, ada yang khusus untuk
berwudhu, dan ada yang khusus untuk cuci-cuci peralatan dapur.
Yaa
. . . aku enjoy dengan semuanya, lingkungan yang sejuk dan orang-orang
didalamnya yang ramah-tamah dan juga karena aku mengikuti sepupuku disini, dia
sudah setahun lebih dahulu di pesantren ini.
Rencana
awal aku masuk pesantren ini cuma satu tahun, karena ayah ingin menyekolahkanku
lagi kesekolah yang ada ijazahnya, maklum dipesantren ini tidak diberikan
ijazah karena merupakan tempat khusus untuk menuntut ilmu agamadan juga karena
kedua orangtuaku adalah guru di sekolah negri. Tapi karena aku sudah cinta
dengan pesantren ini, cinta dengan pengajarku K’Hamdah, cinta dengan
kitab-kitabku dan juga sayang dengan teman-temanku, aku meminta pertambahan
waktu kepada ayah selama satu tahun lagi untuk menuntut ilmu di pesantren ini,
dan akhirnya ayahpun setuju.
Kembali
tersenyum mendapati diriku masih di pesantren ini, senang luar biasa aku masih
bisa berkumpul dengan kalian teman-teman selokalku, sekamarku dan sepesantren
ini J.
Di
pesantren ini aku juga menikmati berbagai persaingan, seperti duluan datang
kelokal, menyapu dan menghapus papan tulis supaya K’Hamdah tidak repot-repot
lagi, duluan menyediakan bantal untuk dijadikan meja K’Hamdah kalau kami
belajar di kamar beliau, pokonya kami bersaing lebih dahulu dalam mengerjakan
semua yang membuat K’Hamdah susah, karena kami ingin mendapat berkah dari apa
yang telah kami pelajari dari k’hamdah, karena apabila k’Hamdah sebagai guru
kami ridha kepada kami, Allah juga akan ridha kepada kami dan dengan itu
berharap untuk keberkahan ilmu kami untuk masa depan kelak.
Persainganpun
bukan hanya dari segi itu, dari segi prestasipun kami juga bersaing, yaaa.....
AlhamduliLLaah aku selalu mendapatkan peringkat yang cukup memuaskan orangtuaku
dan khususnya diriku sendiri, aku senang memuthala’ahi kitab-kitab yang telah
ku pelajari, aku begitu bersemangat dalam menuntut ilmu agama, itu semua karena
dorongan dari orangtuaku, aku sangat menyayangi mereka. Pernah ketika lulus
dari kitab “Syarah sittin” dengan peringkat yang memuaskan, aku meminta ayah
untuk membelikanku kitab “Bajury atau Fathul Qorib” beirut sebagai hadiah dari
prestasiku, yang saat itu tergolong mahal dan jarang teman-teman membelinya,
aku bahagia sekali dibelikan kitab itu sehingga kebahagiaan itu tak bisa untuk
dilukiskan ataupun dituliskan, aku semakin rajin mempelajarinya dan selalu
tersenyum apabila kulihat kitab itu, kitab yang kuperoleh dengan belajar giat
sebagai hadiah orangtuaku hasil dari prestasiku. ^_^
Dan
ketika waktu setahun berakhir, beraaaaaaattt sekali menerima telpon dari ayah
karena ia akan menjemputku beberapa hari lagi untuk pindah, dan ini tidak bisa
ditawar lagi, aku sedih luar biasa tanpa menceritakan kepada siapapun, dan
akhirnya ayahkupun datang untuk menjemputku ibarat malaikat maut yang ingin
mengakhiri kehidupanku, aku pasrah dengan air mata yang selalu jatuh ibarat
hujan yang turun dengan lebatnya, hari ini aku akan pergi meninggalkan kalian.
Kan kujadikan menjadi kenangan terindah yang ada dihidupku, kata terakhir yang
ingin ku ucapkan :
“sungguh
aku terlalu menyayangi apa-apa yang berhubungan dengan pesantren ini !_!”
“IBNUL AMIN PAMANGKIH PUTRI.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar