Pesantren ketiga :
Pondok
Pesantren Rauhatut Thalibin,
Pendiri
: K.H. Ahmad Mu’thi
Di
pesantren ini aku seakan kembali ke pesantren pertama, karena ikatan
kekeluargaan disini lebih kental karena hanya dalam satu rumah besar bertingkat
khusus putri, seakan masih lugu tanpa menggunakan perhiasan apapun yang melekat di tubuh seperti kalung,
gelang apalagi cincin-cincin.
Aku
langsung ikut tingkatan kawan-kawan seangkatanku, AlhamduliLLah aku bisa
mengikuti mereka karena kembali membahas kitab “Syarah Sittin,
Kawakib/Muthammimah” yang sudah ku pelajari waktu di pesantren pertama. Di
pesantren ini di adakan Maulid Habsy & ceramah agama oleh Mu’allim Mu’thi
ataupun dari Habib-habib yang datang, dan acara ini juga dibuka untuk
masyarakat umum, sehingga setiap sore kamis kami membungkus kue untuk persiapan
malamnya, pada malamnya semua santri putri berdandan secantik mungkin untuk
menghadiri acara ini, awalnya sih bingung apa yang harus aku lakukan, Jkarena aku paling nggak bisa kalau urusan dandan, dandan
dan dandan.... hahahaaaa . . .
Yaaa
. . . disinilah aku belajar semuanya, belajar bagaimana cara berkerudung yang
baik, tapi yang namanya aku, ya tetap malas untuk berdandan (sorry, aku sedikit
tomboy sih... J).
Sehabis
habsy dimalam hari, keesokan harinya di hari jum’at setelah bersih-bersih
kembali diadakan masak bersama (makan enak setiap hari jum’at) karena hari ini
adalah hari libur kami (di pesantren keempat nanti) dan setelah habis zhuhur
diadakan lagi pengajian kitab oleh Mu’allim Mu’thi ataupun habib.
Aku
sangat menyayangi Mu’allim ku (Mu’allim Mu’thi) sehingga kalau waktu itu ada
peperangan, aku rela mengorbankan nyawaku untuk menyelamatkannya, aku sangat
menyayanginya, sungguh-sungguh sangat menyayanginya.....
Di
pesantren ini, kawan seangkatankupun juga tak bisa diremehkan, semuanya cerdas,
pintar juga baik hati. Diantara merekapun ada yang dari lulusan pesantren
keduaku (MTs nya) sehingga dengan mudah aku masih bisa bercakap-cakap dengan
mereka menggunakan Bahasa Arab, mempertahankan serta menjaga ilmu yang telah
dipelajari.
Di
akhir kelas tiga, aku tahu Mu’allim berat untuk melepas kami, kamipun juga
tidak ingin berpisah dengan beliau, beliau banyak memberi kami petuah-petuah
serta pelajaran berharga yang kelak semoga dapat diamalkan oleh kami (aamiin).
Dan kenangan terakhir kami diajak ziarah kemakam para wali daerah Kalimantan
Selatan, seperti Makam Datu Sanggul Rantau, Makam Guru Sekumpul Martapura,
Makam para Habib daerah basirih, dan banyak lagi makam-makam para wali Allah
yang lainnya ^_^. Dan waktu di perjalanan pulang, beliau mengajak kami untuk
makan direstoran AZ, Yaa Allah, betapa senangnya hati ini, memiliki guru yang
semulia beliau.
Beliau
adalah tokoh yang sangat menginspirasi hidupku, selain ‘alim, beliau adalah
sosok suami yang setia, tegas, penyayang, serta perhatian beliau itu lohhh
kepada murid yang buat aku menjadi sangat menyayangi beliau. Beliau mengerti
apa yang kami mau seolah kami bercerita kepada beliau ini dan itu, dan kemudian
beliau mengabulkan apa yang kami mau, padahal tidak sedikitpun kami
menceritakan kepada beliau tentang sesuatupun.
Ungkapan
yang ingin ku sampaikan adalah “Sampai kapanpun aku akan selalu menyayangimu
Mu’allimku dan kalian saudaraku teman-temanku di Asrama Raudhatut Thalibin
adalah saudara se-iman & se-perjuanganku, aku merindukan kalian... :-)"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar