Minggu, 10 Februari 2013

PENJARA SUCI Q

Pesantren ketiga :
Pondok Pesantren Rauhatut Thalibin,
Pendiri : K.H. Ahmad Mu’thi
Di pesantren ini aku seakan kembali ke pesantren pertama, karena ikatan kekeluargaan disini lebih kental karena hanya dalam satu rumah besar bertingkat khusus putri, seakan masih lugu tanpa menggunakan perhiasan  apapun yang melekat di tubuh seperti kalung, gelang apalagi cincin-cincin.
Aku langsung ikut tingkatan kawan-kawan seangkatanku, AlhamduliLLah aku bisa mengikuti mereka karena kembali membahas kitab “Syarah Sittin, Kawakib/Muthammimah” yang sudah ku pelajari waktu di pesantren pertama. Di pesantren ini di adakan Maulid Habsy & ceramah agama oleh Mu’allim Mu’thi ataupun dari Habib-habib yang datang, dan acara ini juga dibuka untuk masyarakat umum, sehingga setiap sore kamis kami membungkus kue untuk persiapan malamnya, pada malamnya semua santri putri berdandan secantik mungkin untuk menghadiri acara ini, awalnya sih bingung apa yang harus aku lakukan, Jkarena aku paling nggak bisa kalau urusan dandan, dandan dan dandan.... hahahaaaa . . .
Yaaa . . . disinilah aku belajar semuanya, belajar bagaimana cara berkerudung yang baik, tapi yang namanya aku, ya tetap malas untuk berdandan (sorry, aku sedikit tomboy sih... J).
Sehabis habsy dimalam hari, keesokan harinya di hari jum’at setelah bersih-bersih kembali diadakan masak bersama (makan enak setiap hari jum’at) karena hari ini adalah hari libur kami (di pesantren keempat nanti) dan setelah habis zhuhur diadakan lagi pengajian kitab oleh Mu’allim Mu’thi ataupun habib.
Aku sangat menyayangi Mu’allim ku (Mu’allim Mu’thi) sehingga kalau waktu itu ada peperangan, aku rela mengorbankan nyawaku untuk menyelamatkannya, aku sangat menyayanginya, sungguh-sungguh sangat menyayanginya.....
Di pesantren ini, kawan seangkatankupun juga tak bisa diremehkan, semuanya cerdas, pintar juga baik hati. Diantara merekapun ada yang dari lulusan pesantren keduaku (MTs nya) sehingga dengan mudah aku masih bisa bercakap-cakap dengan mereka menggunakan Bahasa Arab, mempertahankan serta menjaga ilmu yang telah dipelajari.
Di akhir kelas tiga, aku tahu Mu’allim berat untuk melepas kami, kamipun juga tidak ingin berpisah dengan beliau, beliau banyak memberi kami petuah-petuah serta pelajaran berharga yang kelak semoga dapat diamalkan oleh kami (aamiin). Dan kenangan terakhir kami diajak ziarah kemakam para wali daerah Kalimantan Selatan, seperti Makam Datu Sanggul Rantau, Makam Guru Sekumpul Martapura, Makam para Habib daerah basirih, dan banyak lagi makam-makam para wali Allah yang lainnya ^_^. Dan waktu di perjalanan pulang, beliau mengajak kami untuk makan direstoran AZ, Yaa Allah, betapa senangnya hati ini, memiliki guru yang semulia beliau.
Beliau adalah tokoh yang sangat menginspirasi hidupku, selain ‘alim, beliau adalah sosok suami yang setia, tegas, penyayang, serta perhatian beliau itu lohhh kepada murid yang buat aku menjadi sangat menyayangi beliau. Beliau mengerti apa yang kami mau seolah kami bercerita kepada beliau ini dan itu, dan kemudian beliau mengabulkan apa yang kami mau, padahal tidak sedikitpun kami menceritakan kepada beliau tentang sesuatupun.
Ungkapan yang ingin ku sampaikan adalah “Sampai kapanpun aku akan selalu menyayangimu Mu’allimku dan kalian saudaraku teman-temanku di Asrama Raudhatut Thalibin adalah saudara se-iman & se-perjuanganku, aku merindukan kalian... :-)"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar