Pesantren kedua :
Pondok
Pesantren Modern Darul Istiqamah Putri,
Pendiri
: K.H. Hasan Basuni BA
O.K.
karena sudah terbiasa di pesantren aku sedikit terkejut dengan pesantren ini,
ternyata ini adalah pesantren yang manggunakan Bahasa Arab & Bahasa Inggris
sebagai bahasa percakapan sehari-harinya. Awal memasuki pesantren ini aku
bingung bagaimana cara mereka (kaka kelas) bisa selancar itu dalam
bercakap-cakap menggunakan bahasa Arab, aku hanya mengerti sedikit dari apa
yang mereka katakan, dengan memperhatikan mufradat yang mereka gunakan.
Di
pesantren ini aku begitu terkenal karena apa ??? hahaaaa :D
Karena
aku paling sering dihukum bagian pendidikan (Qismu Ta’lim), kalau setiap
kekelas aku bisa tepat waktu, tapi kalau ke Mosholla aku selalu terlambat,
karena kebiasaanku berwudhu sewaktu di pesantren pertama dengan ritual
sunah-sunah sebelum berwudhu juga antri menunggu WC ataupun gayung. Sebagai
hukumannya aku selalu termasuk siswa yang selalu berdiri membaca surah Yaasin
bersama siswa lain yang juga ikut terlambat, tapi sayangnya aku lah yang tak
pernah absen dalam keterlambatan ini, kalau dihitung berapa kali aku pernah
tepat waktu ke Mosholla, mungkin bisa dihitung dengan jari :D. Aku juga sering
dihukum bagian Bahasa (Qismul Lughah), padahal itu sih bukan kesalahanku, hanya
mungkin orang-orang yang ingin menghukumku, bayangkan saja aku yang setiap bulan
di umumkan mendapatkan nilai terbaik dalam ulangan bahasa (Bahasa Arab), masa
sering melanggar bagian bahasa, dan kesalahanyapun juga tak dapat ku mengerti,
aku benar-benar tidak merasa mengatakan apa yang dituduhkan, hal ini membuatku
jengkel luar biasa, tapi yaa sudahlah hitung-hitung memperbanyak kosa kataku.
Di
pesantren ini banyak hal yang dapat ku ambil pelajaran hidup, diantaranya
belajar untuk disiplin karena setiap kegiatan disini selalu menggunakan lonceng,
karena kewajiban menggunakan berbahasa setiap hari membuatku untuk belajar PD
untuk menggunakan & memanfaatkan kosa kata yang sudah kumiliki, belajar
berkelompok, misalnya dalam kelompok makan dan kelompok belajar, dan banyakl
lagi hal yang lainnya. ^_^
Ketika
di pesantren ini, lagi-lagi ayahku ingin memindahkanku ke pesantren lain yang
kembali mendalami masalah keagamaan, alasannya karena aku lupa sedikit-sedikit
pelajaranku sewaktu di pesantren pertama dan juga aku terlalu boros di
pesantren ini, bukan karena biaya SPP tapi karena di pesantren ini ada waktu
libur yang mengizinkan siswanya keluar pesantren untuk berbelanja, otomatis
saja aku sering kepasar dan beli ini-itu, :D. Akupun menyetujuinya, karena saat
itu teman-teman seangkatanku selalu memanggilku dengan sebutan “Ustadzah” yaaa
otomatis aku merasa kalau aku merupakan salah satu calon yang akan dipilih
menjadi ustadzah setelah lulus di pesantren ini dengan pengabdian selama satu
tahun, yaa karena aku merasa sudah dua tahun terlambat dari temanku yang lain
jadi akupun mau untuk di pindahkan dari pesantren ini.
Siang
hari selasa, ketika ayah datang menengokku, awalnya sih bingung karena ditanya
:
Ayah : Mimpi napa sumalam ta ???
Aku : kadada ae bah, kanapa bah ?
Ayah : (sambil menyerahkan surat di
terimanya aku di PonPes Rakha) nah liati . . .
Aku : (sambil membaca, terkejut)
bujuran kah ne bah ???
Ayah : napa lagi ? hari apa handak baangkut
?
Aku : tasarah pian ae...
Ayah : hari kamis kah kena lah...
Aku : aeja bah ae . . .
Setelah
itu aku ditemani ayah menghadap ustadzah di kantor dewan guru untuk
memberitahukan kalau aku akan pindah kePonPes Rakha Amuntai, semua ustadzah
menyayangkan kepindahanku, kemudian keluar dari dapur dewan dengan biasa saja,
raut muka yang biasa saja, datar ... tidak senang juga tidak sedih...
Ketika
teman-teman tau akan kepindahanku, lagi-lagi tangisan kedua perpisahan ini
terjadi, dan ketika akhirnyapun aku membenci perpisahan, kenapa harus ada
pertemuan kalau akhirnya ada perpisahan, tapi inilah jalan-Nya yang ku percaya
untuk kebaikanku kelak.
Kata-kata
untuk kalian teman-temanku “Aku menyayangi kalian, terima kasih telah memberi
makna dikehidupanku ^_^.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar