Minggu, 10 Februari 2013

PENJARA SUCI Q

Pesantren kedua :
Pondok Pesantren Modern Darul Istiqamah Putri, 
Pendiri : K.H. Hasan Basuni BA
O.K. karena sudah terbiasa di pesantren aku sedikit terkejut dengan pesantren ini, ternyata ini adalah pesantren yang manggunakan Bahasa Arab & Bahasa Inggris sebagai bahasa percakapan sehari-harinya. Awal memasuki pesantren ini aku bingung bagaimana cara mereka (kaka kelas) bisa selancar itu dalam bercakap-cakap menggunakan bahasa Arab, aku hanya mengerti sedikit dari apa yang mereka katakan, dengan memperhatikan mufradat yang mereka gunakan.
Di pesantren ini aku begitu terkenal karena apa ??? hahaaaa :D
Karena aku paling sering dihukum bagian pendidikan (Qismu Ta’lim), kalau setiap kekelas aku bisa tepat waktu, tapi kalau ke Mosholla aku selalu terlambat, karena kebiasaanku berwudhu sewaktu di pesantren pertama dengan ritual sunah-sunah sebelum berwudhu juga antri menunggu WC ataupun gayung. Sebagai hukumannya aku selalu termasuk siswa yang selalu berdiri membaca surah Yaasin bersama siswa lain yang juga ikut terlambat, tapi sayangnya aku lah yang tak pernah absen dalam keterlambatan ini, kalau dihitung berapa kali aku pernah tepat waktu ke Mosholla, mungkin bisa dihitung dengan jari :D. Aku juga sering dihukum bagian Bahasa (Qismul Lughah), padahal itu sih bukan kesalahanku, hanya mungkin orang-orang yang ingin menghukumku, bayangkan saja aku yang setiap bulan di umumkan mendapatkan nilai terbaik dalam ulangan bahasa (Bahasa Arab), masa sering melanggar bagian bahasa, dan kesalahanyapun juga tak dapat ku mengerti, aku benar-benar tidak merasa mengatakan apa yang dituduhkan, hal ini membuatku jengkel luar biasa, tapi yaa sudahlah hitung-hitung memperbanyak kosa kataku.
Di pesantren ini banyak hal yang dapat ku ambil pelajaran hidup, diantaranya belajar untuk disiplin karena setiap kegiatan disini selalu menggunakan lonceng, karena kewajiban menggunakan berbahasa setiap hari membuatku untuk belajar PD untuk menggunakan & memanfaatkan kosa kata yang sudah kumiliki, belajar berkelompok, misalnya dalam kelompok makan dan kelompok belajar, dan banyakl lagi hal yang lainnya. ^_^
Ketika di pesantren ini, lagi-lagi ayahku ingin memindahkanku ke pesantren lain yang kembali mendalami masalah keagamaan, alasannya karena aku lupa sedikit-sedikit pelajaranku sewaktu di pesantren pertama dan juga aku terlalu boros di pesantren ini, bukan karena biaya SPP tapi karena di pesantren ini ada waktu libur yang mengizinkan siswanya keluar pesantren untuk berbelanja, otomatis saja aku sering kepasar dan beli ini-itu, :D. Akupun menyetujuinya, karena saat itu teman-teman seangkatanku selalu memanggilku dengan sebutan “Ustadzah” yaaa otomatis aku merasa kalau aku merupakan salah satu calon yang akan dipilih menjadi ustadzah setelah lulus di pesantren ini dengan pengabdian selama satu tahun, yaa karena aku merasa sudah dua tahun terlambat dari temanku yang lain jadi akupun mau untuk di pindahkan dari pesantren ini.
Siang hari selasa, ketika ayah datang menengokku, awalnya sih bingung karena ditanya :
Ayah         : Mimpi napa sumalam ta ???
Aku            : kadada ae bah, kanapa bah ?
Ayah         : (sambil menyerahkan surat di terimanya aku di PonPes Rakha) nah liati . . .
Aku            : (sambil membaca, terkejut) bujuran kah ne bah ???
Ayah         : napa lagi ? hari apa handak baangkut ?
Aku            : tasarah pian ae...
Ayah         : hari kamis kah kena lah...
Aku            : aeja bah ae . . .
Setelah itu aku ditemani ayah menghadap ustadzah di kantor dewan guru untuk memberitahukan kalau aku akan pindah kePonPes Rakha Amuntai, semua ustadzah menyayangkan kepindahanku, kemudian keluar dari dapur dewan dengan biasa saja, raut muka yang biasa saja, datar ... tidak senang juga tidak sedih...
Ketika teman-teman tau akan kepindahanku, lagi-lagi tangisan kedua perpisahan ini terjadi, dan ketika akhirnyapun aku membenci perpisahan, kenapa harus ada pertemuan kalau akhirnya ada perpisahan, tapi inilah jalan-Nya yang ku percaya untuk kebaikanku kelak.
Kata-kata untuk kalian teman-temanku “Aku menyayangi kalian, terima kasih telah memberi makna dikehidupanku ^_^.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar